Contoh Makalah Model Pembelajaran Berbasis Sentra

Contoh Makalah Model Pembelajaran Berbasis Sentra
4.0 (80%) 7 votes

BAB I
PEMBUKAAN

A. Latar Belakang

Model pembelajaran sentra di kenal di Indonesia oleh Dr. Pamela Phelp dari CCCRT Florida. Bermain di pandang sebagai kerja otak sehingga anak di beri kesempatan untuk memeulai dari mengembangkan ide hingga tuntas menyelesaikan hasil karyanya “Start and finish”. Dukungan guru memfasilitasi anak mengembangkan kecakapan berpikir aktif dan anak diberi keleleuasaan untuk melakukan berbagai kegiatan untuk mendapatkan pengalaman tentang dunia sekelilingnya.

Sentra yang dikembangkan tidak berbeda dengan sistem area. Perbedaan tampak dalam pengelolaan kelas. Dalam model area semua anak bebas memilih bermain yang dikelola oleh seorang guru. Dalam model sentra anak bebas memilih bermain yang disiapkan dalam satu sentra. Di dalam sentra dilengkapi dengan 3 jenis kegiatan bermain, yaitu bermain sensorimotorik, main peran,dan main pembangunan.

Keragaman main atau disebut juga densitas main memfasilitasi untuk dapat memilih mainan sesuai dengan minatnya. Kelompok anak berpindah bermain dari sentra ke sentra lainnya setiap hari. Tiap sentra dikelola oleh seorang guru. Proses pembelajarannya dengan menggunakan 4 pijakan, yaitu pijakan penataan alat (pijakan lingkungan), pijakan sebelum main, pijakan selama main, dan pijakan setelah bermain.

Baca Juga  Cara Memaksimalkan Potensi Anak

B. Rumusan Masalah

  1. Apa Pengertian Pembelajaran Berbasis Sentra?
  2. Apa Saja Sentra Bermain dalam Model Pembelajaran Sentra?
  3. Apa Saja 4 Pijakan Main yang Terdapat dalam Model Pembelajaran Sentra?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran Berbasis Sentra

Pembelajaran berbasis sentra adalah model pembelajaran yang dilakukan di dalam “lingkaran” (circle time) dan sentra bermain. Lingkaran adalah saat ketika guru duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan kepada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah bermain. Sentra bermain adalah zona atau area bermain anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat bermain, yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mengembangkan seluruh potensi dasar anak didik dalam berbagai aspek perkembangannya secara seimbang. Setiap sentra mendukung perkembangan anak dalam tiga jenis bermain yaitu : bermain sensori motor ata fungsional, bermain peran dan bermain konstruktif (membangun pemikiran anak).

Bermain sensori motor adalah menangkap rangsangan melalui pengindraan dan menghasilkan gerakan sebagi reaksinya. Anak usia dini belajar melalui panca indranya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan mereka. Misalnya : menakar air, meremas kertas bekas, dan menggunting. Bermain peran terdiri dari bermain peran makro (besar) dan bermain peran mikro (bermain simbolik, pura-pura, fantasi, imajinasi, atau bermain drama). Anak bermain dengan benda untuk membantu menghadirkan konsep yang telah dimilikinya.

Bermain konstruktif menunjukkan kemampuan anak untuk mewujudkan pikiran, ide, dan gagasannya menjadi sebuah karya nyata. Ada dua jenis bermain konstruktif, yaitu bermain konstruktif sifat cair ( air, pasir, spidol dan lainnya) dan bermain konstruktif terstruktur (balok, lego, dan lainnya).

B. Sentra Bermain

Sentra bermain adalah zona atau area bermain anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat bermain, yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mengembangkan seluruh potensi dasar anak didik dalam berbagai aspek perkembangannya secara seimbang.

Sentra bermain terdiri dari :

1. Sentra balok

Sentra balok memfasilitasi anak bermain tentang konsep bentuk, ukuran, keterkaitan bentuk, kerapian, ketelitian, bahasa, dan kreativitas. Bermain balok selalu dikaitkan dengan main peran mikro, dan bangunan yang dibangun anak digunakan untuk bermain peran.

Sentra balok berisi berbagai macam balok dalam berbagai bentuk, ukuran, warna dan texstur. Di sini anak belajar berbagai macam balok dalam berbagai bentuk, ukuran, warna dan texstur. Di sini anak belajar banyak hal dengan cara menyusun/menggunakan balok, mengembangkan kemampuan logika matematika permulaan, kemampuan berfikir, dan memecahkan masalah.

2. Sentra main peran kecil (mikro)

Main peran kecil mengembangkan kemampuan berpikir abstrak, kemampuan berbahasa, social emosional, menyambungkan pengetahuan yang sudah dimiliki dengan pengetahuan baru dengan menggunakan alat main peran berukuran kecil.

3. Sentra main peran besar

Sentra main peran mengembangkan kemampuan mengenal lingkungan social, mengembangkan kemampuan bahasa, kematangan emosi dengan menggunakan alat main yang berukuran besar sesuai dengan ukuran sebenarnya.

4. Sentra imtaq

Sentra imtaq mengenalkan kehidupan beragama dengan keterampilan yang terkait dengan agama yang dianut anak. Sentra imtaq untuk satuan PAUD umum mengenalkan atribut berbagai agama, sikap menghormati agama.

Bahan bahan yang disiapkan adalah tempat dan perlengkapan ibadah, gambar-gambar, dan buku-buku cerita keagamaan. Kegiatan yang dilaksanakan adalah menanamkan nilai-nilai kehidupan beragama, keimanan, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

5. Sentra seni

Sentra seni dapat dibagi dalam seni music, seni tari, seni kriya, atau senipahat. Penentuan sentra seni yang dikembangkan tergantung pada kemampuan satuan PAUD. Disarankan minimal ada dua kegiatan yang dikembangkan di sentra seni yakni music dan seni kriya. Sentra seni mengembangkan kemampuan motorik halus, keselarasan gerak, nada, aspek social emosional dan lainnya.

Bahan – bahan yang diperlukan di sentra ini adalah kertas, cat air, krayon, spidol, gunting, kapur, tanah liat, pasir, lilin, kain, daun, potongan gambar. Sentra seni memfasilitasi anak untuk memperluas pengalamannya ke dalam karya nyata melalui metode proyek.

6. Sentra persiapan

Sentra persiapan lebih menekankan pengenalan keaksaraan awal pada anak. Penggunaan buku, alat tulis dapat dilakukan di semua sentra, tetapi di sentra persiapan lebih diperkaya jenis kegiatan bermainnya. Pada kelompok anak paling benar yang segera masuk sekolah dasar, frekuensi main di sentra persiapan lebih banyak. Kegiatan persiapan dapat juga diperkuat dalam jurnal siang.

7. Sentra bahan alam

Sentra bahan alam kental dengan pengetahuan sains , matematika, dan seni. Sentra bahan alam diisi dengan berbagai bahan main yang berasal dari alam anak memiliki kesempatan menggunakan bahan main dengan berbagai cara sesuai pikiran dan gagasan masing masing dengan hasil yang berbeda. Gunakan bahan dan alat yang ada disekitar. Perhatikan keamanannanya. Bahan dan alat yag digunakan harus bebas dari bahan beracun atau binatang kecil yang membahayakan.

Bahan – bahan yang di perlukan dalam sentra ini adalah daun, ranting, kayu, pasir, air, batu, dan biji-bijian. Alat yang digunakan adalah sekop, saringan, corong, ember.

8. Sentra memasak.

Sentra memasak kaya dengan pengalaman unik bagi anak mengenal berbagai bahan masakan dan proses sains yang menyenangkan. Di sentra masak anak belajar konsep matematika, sains, alam, dan social sehingga menunjang perkembangan kognitif, social emosional, bahasa, motorik, dan juga seni serta nilai agama.

C. Empat Pijakan Main Dalam Sentra

Pijakan (scaffolding) menurut Laura E. Berk and Adam Sinsler dalam Scaffolding Children’s Learninga yaitu Dukungan yang berubah-ubah selama kegiatan balajar, dimana mitra yang lebih terampil menyesuaikan dukungan terhadap tingkat kinerja anak pada saat ini. Dukungan lebih banyak diberikan ketika tugas main baru, dukungan lebih sedikit ketika kemampuan anak sudah meningkat, dengan demikian menanamkan penguasaan diri dan kemandirian.

Pijakan main dalam sentra diantaranya :

1. Pijakan Lingkungan Main

Pijakan Lingkungan Main atau juga disebut penataan lingkungan bermain, dalam hal ini guru menempatkan alat dan bahan bermain yang akan di gunakan yang mencerminkan rencana pembelajaran yang telah dibuat sehingga tujuan anak selama bermain dengan alat tersebut dapat dicapai.

2. Pijakan Sebelum Main

Guru dan anak duduk melingkar, guru member salam pada anak – anak , menanyakan kabar, dan dilanjutkan dengan kegiatan :

  1. Meminta anak untuk memperhatikan siapa teman mereka yang tidak hadir.
  2. Berdo’a bersama, anak secara bergilir memimpin doa.
  3. Menyampaikan tema, dikaitkan dengan kehidupan anak.
  4. Membacakan buku yang terkait dengan tema, setelah selesai, guru menanyakan kembali isi cerita.
  5. Mengaitka isi cerita dengan kegiatan bermain yang akan dilakukan.
  6. Mengenalkan semua tempat dan alat main yang sudah disiapkan.
  7. Memberi pijakan sesuai dengan rencana pembelajaran dan kemampuan yang diharapkan muncul pada anak.
  8. Menyampaikan aturan bermain (digali dari anak) memilih tema, memilh alat, cara menggunakan alat-alat, kapan memulai dan mengakhiri bermain, serta merapikan kembali alat yang sudah dimainkan.
  9. Mengatur tema lain dengan member kesempatan kepada anak untuk memilih teman mainnya.
  10. Setelah semua anak siap, guru mempersilahkan anak untuk mulai bermain.

3. Pijakan Saat Main

Selama kegiatan bermain, guru melakukan hal-hal berikut :

  1. Mengamati dan memastikan semua anak melakukan kegiatan bermain.
  2. Member contoh cara bermain pada anak yang belum bisa menggunakan alat.
  3. Member dukungan berupa pernyataan positif tentang pekerjaan yang dilakukan.
  4. Memancing dengan pertanyaan terbuka untuk memperluas cara bermain anak, pertanyaan terbuka artinya pertanyaan yang tidak cukup dengan dijawab ys stsu tidsk saja, tetapi banyak kemungkinan jawaban yang diberikan.
  5. Memberikan bantuan pada anak yang membutuhkan.
  6. Mendorong anak untuk mencoba dengan cara lain sehingga mereka memiliki berbagi pengalaman bermain.
  7. Mencatat yang dilakukan anak (jenis bermain, tahap perkembangan, tahap social).
  8. Mengumpulkan hasil kerja anak.
  9. Menjelang waktu habis, guru member tahu anak-anak untk bersiap-siap menyelesaikan kegiatan bermainnya.

4. Pijakan Setelah Main

Ketika waktu bermain selesai, guru memberitahukan saatnya memberikan alat dan bahan yang sudah digunakan dengan melibatkan seluruh anak.

Kegiatan yang dilakukan :

  1. Membaca doa sesudah bermain dan belajar
  2. Recalling
  3. Menggunakan waktu untuk membereskan sebagai pengalaman belajar positif melalui pengelompokkan urutan dan penataan lingkungan main secara tepat.

BAB III
KESIMPULAN

Model pembelajaran sentra di kenal di Indonesia oleh Dr. Pamela Phelp dari CCCRT Florida. Pembelajaran berbasis sentra adalah model pembelajaran yang dilakukan di dalam “lingkaran” (circle time) dan sentra bermain. Lingkaran adalah saat ketika guru duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan kepada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah bermain. Sentra bermain adalah zona atau area bermain anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat bermain, yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mengembangkan seluruh potensi dasar anak didik. Tiap sentra dikelola oleh seorang guru. Proses pembelajarannya dengan menggunakan 4 pijakan, yaitu pijakan penataan alat (pijakan lingkungan), pijakan sebelum main, pijakan selama main, dan pijakan setelah bermain.

Vote and Share your Fell !
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

About Giri Wahyu Pambudi

Giri Wahyu Pambudi - Seorang Anak Desa yang berkeinginan membangun Indonesia dengan Sedikit Ilmu yang dimiliki
Jumlah Post : 352 Artikel

Artikel Serupa

Check Also

4 Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang Guru