Belajar dari Kisah masa Kecil Khadijah RA

Belajar dari Kisah masa Kecil Khadijah RA
4.7 (94%) 5 votes

Tidak ada seorang wanita di dunia yang lebih indah budi pekertinya daripada Khadijah . Tidak ada satupun wanita yang dapat menandingi Khadijah dalam hal kebijaksanaan, kesucian, kesederhanaan, dan kemandirian. Ketika banyak penduduk Mekah menyembah brhala, ia tidak melakukannya. Saat kebanyakan masyarakat Mekah membunuh anak perempuannya, Khadijah justru menunjukkan bahwa anakperempuan mampu menjaga diri dan kehormatannya

Khadijah adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab Al-Qurasyiysh Al-Asadiyah. Dijuluki al-thahirah yakni wanita yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dlahirkan di rumah mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah).

Khuwailid ayahnya adalah seorang pedagang yang sukses. Seperti kebanyakan saudagar Arab lainnya ia mendapatkan keuntungan dari pedagangan asing. Para pedagang mekah mengirimkan dua kafilah besar tiap tahunnya. Satu musim panas dan satu dimusim dingin. Merekamengirim kafilah musim panas ke Syiria dan kafilah musim dingin ke Yaman. Kafilah – kailah ini kemudian membawa hasil – hasil produksi dari Mekah dan sekitarnya, lalu menjualnya di Yaman dan Syiria.

Ibunda Khadijah meninggal dunia pada tahun 575M dan Khuwailid pada tahun 585M. Sepeninggal keduanya, anak anak mereka mewarisi kekayaan orangtuanya, kemudian membaginya. Kekayaan ada bahayanya. Kekayaan dapat membuat hidup menganggur dan berfoya foya. Tapi tidak dengan Khadijah, wanitasuci ini sangat menyadari bahaya tersebut. Ia memutuskan untuktidak menjadikan dirinya sebagai penganggur. Ia dikaruniai kecerdasan yang luar biasa dan kekuatan sikap yang membuatnya mampu mengatasigodaan harta. Di antara saudaranya, hanya Khadijah yang memiliki kemampuan berdagang seperti ayahnya.Sehingga. lama kelamaan Khadijah menjadi saudagar yang kaya raya di kota Mekkah.

Sepeninggal ayahnya, Khadijah mengambil alihbisnis keluarga dan segera mengembangkannya. Dengan keuntungan yang di dapatkannya, ia tidak lupa untuk membantu orang-orang miskin, janda, anak yatim dan orang orang kebutuhan khusus.

Baca Juga  Pasti Nangis ! Kisah Haru kerinduan Bilal bin Rabah dengan Rasulullah

Dalam menjalankan bisnis, Khadijah tidak langsung pergi ke Yaman atau Syria. Ia cukup duduk di rumah, semua dagangannya dititipkan kepada orang orang yang telah di percayainya. Sistemnya adalah bagi hasil.

Khadijah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia. Saat dewasa, ia menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Ia dikenal sebagai seorang wanita yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki laki dari kaumnya menaruh simpati kepada Khadijah.

Dari suami pertamanya Abu Halah bin Nabbasy Al-Tamimi, Khadijah memiliki dua anak yaitu Hindun dan Halah. Hindun pernah di asuh oleh Rasulullah. Ia adalah anak tiri Rasulullah, saudara tiri Fatimah. Hindun tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mampu mengungkapkan fikirannya dengan bahasa yang indah dan menawan.

Setelah cerai dari suami keduanya yaitu Atiqbin’Aid bin Abdullah Al-Makhzumi, banyak pemuka kaum Quraish inginmempersunting dirinya. Tapi pilihanyya justru jatuh padaseorang pemuda bernama Muhammad. Pemuda yang mengenal dirinya, yakni tidak tergiur oleh kekayaan dan kecantikan.

Sebagai perempuan yang dikenal terjaga akhlak mulianya, Khadijah sangat berhati hati dalam ber bisnis. Ia membangun jaringan bisnisnya dengan modal kepercayaan. Pendidikan yang di ajarkan oleh Ibu bapaknya diterima dengan patuh dan taat, sehingga diatampil sebagaiseorang wanita budiman dan berakhlak luhur serta tidakpernah bangga atau sombong dengan taraf kebangsawanannya.

Khadijah juga mendapatkan julukan “Ratu Quraisy” dan “Ratu Mekkah”. Ini pertama kali dalam sejarah Arab, seorang wanita yang hidup pada masa jahiliyah mendapatkan sebutan al-thahirah dan “Ratu Mekkah”

Share your vote!


Vote and Share your Fell !
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

About Zafira Wafa

Jumlah Post : 59 Artikel

Artikel Serupa

Check Also

Pasti Nangis ! Kisah Haru kerinduan Bilal bin Rabah dengan Rasulullah